Hari ini, aku kembali mengingat segala tentangmu. Ternyata kau itu adalah tinta yang sulit kuhapus. Dan tinta itu berwarna. Aku tahu, kau pasti marah jika kulakukan hal ini lagi. Aku tahu, kamu tahu, dan hati kita tahu. Kamu pernah berkata, bahwa kamu percaya aku bisa. Awalnya aku tak yakin. Tapi ternyata aku bisa. Aku bisa membawa semua kenangan itu dalam sebuah tempat yang tepat. Aku tempatkan pada sebuah kanvas bernama penantian, dengan figura kesabaran, dan ruangan doa yang selalu kupanjatkan dalam setiap sujud kala kubertemu denganNya. Maaf, jika aku lancang selalu menyebut namamu di dalam ruang bernama doa itu. Aku tahu, kau pasti marah jika aku melakukan hal itu. Tapi aku juga tahu, senyummu terulas dalam marahmu. Marahmu tak berarti sebuah amarah. Tapi keteguhan atas sebuah kata bernama cinta. Demi sebuah cinta yang halal suatu hari nanti, bersamamu. Kita berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar