Salam Oneng

Hingga kutemukan sakit atas tawa. Dan terasa bahagia dalam luka. Aku... tak akan mati dan berhenti disini. Walau dalam persimpangan, aku akan terus berjalan meniti setiap karang terjal. Dan taklukkan aral berduri. Atas jalan mimpi yang tak terbatas. Aku berjanji... tuk berdiri dan gapai langit mimpi tertinggi. -Detektif Oneng-

Tampilkan postingan dengan label Gubahan Oneng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gubahan Oneng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Oneng Iseng

Mungkin air mata itu masih tersisa jejaknya di sini. Ataukah mungkin potretan senyum itu masih tergambar jelas di sanubari. Kalaulah memang Dia sengaja menyisakannya sedikit di dalam hati, akan kutanam ia lekat-lekat agar tak hilang sama sekali. Tapi aku tak mau bergelut terlalu jauh, cukuplah tahu dan sudah. Biarlah waktu itu berlalu, aku tak akan memintanya untuk dilambatkan atau dihadirkan kembali. Biarlah esok itu menjadi rahasiaNya, aku tak akan meminta untuk dipercepat kedatangannya. Hanya perlu setiap detik hari ini saja akan kulewati dengan kesungguhan hati.

Minggu, 31 Maret 2013

Oneng Iseng

Sejatinya sebuah hati itu tak lagi setia,
maka seuntai tali kasih pun tak dapat membuatnya untuk tetap tinggal.
Kata percuma mungkin tepat untuk segala tindakan yang diperbuat.
 Sebuah penantian tak lagi berarti.
Sekaligus mati dalam satu detik kedipan mata.
Hanya dalam satu tarikan nafas saja.
Semuanya tamat.
Sayangnya meninggalkan sebuah bekas,
dengan warna yang sangat jelas.
Mungkin akan selalu teringat
atau terlupakan dengan cepat.
 

Rabu, 27 Maret 2013

Oneng Iseng

Sejenak peluh ini kuusap. Nafas ini kusandarkan pada alunan riuh rendah rintik hujan di luar sana. Kurasakan dingin udaranya. Kudengarkan suara rintik kecilnya yang menyentuh atap-atap rumah. Rintik itu perlahan jatuh dan mematuk-matuk kaca jendela. Jatuh perlahan pada pasir di tanah. Pasti kan kudapati jejak rintiknya di sana esok pagi. Entah kenapa ku selalu merasakan damai kala titik-titik air itu jatuh menyapa bumi. Terkadang hingga terbuai alunan suara riuh rendah rintiknya. Terlena dalam sebuah lamunan bersama detik-detik jatuhnya rintik.

 Sepersekian menit kukatupkan kedua kelopak sayu ini. Kudekatkan lagi hatiku pada air-air lembut yang jatuh perlahan dari langitNya. Lekat suaranya terasa di telinga. Detak jantungku beradu dengan detak irama rintiknya. Satu, dua, tiga, ah aku tak bisa menghitung berapa jumlahnya. Sama, aku pun tak bisa menghitung berapa jumlah anugerah yang telah Dia berikan setiap detik pada hambaNya. Anugerah itu pun ada dalam setiap tetes air melalui rintik-rintik itu. Telah menghidupkan setiap inci kehidupan yang ada di bumiNya.
 
Jangan sampai hati ini kufur tak bersyukur dan dibenci oleh dzat yang Maha Pemberi rezeki. Sesungguhnya cintaNya itu nyata dan selalu cuma-cuma diberikan kepada setiap hamba. Tinggal kembali pada hati hambaNya bersikap seperti apa. Tak perlulah kiranya mengeluhkan atau menyalahkan jatuhnya rintik, sekalipun rintik itu menjadi gerimis, dan berangsur menjadi deras, ataupun berujung pada badai tak berbatas. Hanya perlu arahkan hatimu pada cinta agungNya. Maka 'kan tiada lagi prasangka atas setiap apa yang diturunkan dari langit suciNya.

Minggu, 17 Maret 2013

Sajak Kontras

Langkahku mulai melipir.
Hatiku pun meminggir.
Tanpa hiraukan akal fikir.
Imanku telah terkikir.

Hasratku akan akhirat sudah alfa.
Diberi kata malah menutup telinga.
Diberi tanda malah menutup mata.
Jiwaku ini gila dunia.

Aku memang manusia hina.
Tapi masih beragama.
Selalu bergetar hatiku kala berbuat dosa.
Takut akan api neraka.
Takut jika pemilik jiwaku murka.
Aku ini manusia macam apa?
Tak punya hati hingga mempermainkanNya.
Bermain api dalam bara.

Tak perlu menunggu hingga satu dasawarsa
untuk sampai pada jalanNya.
Cukupkan saja
dan bersegera sujud padaNya.
Tegaskan hati atas takwa.

Cahaya itu amat hampir.
Makin dekat dan di hatiku Ia terparkir.
Masa lalu memang terasa getir.
Tapi ada Dia, Sang Empunya takdir.
Tetap menjagaku hingga akhir.

Kamis, 03 Januari 2013

Oneng Iseng

Hari ini, aku kembali mengingat segala tentangmu. Ternyata kau itu adalah tinta yang sulit kuhapus. Dan tinta itu berwarna. Aku tahu, kau pasti marah jika kulakukan hal ini lagi. Aku tahu, kamu tahu, dan hati kita tahu. Kamu pernah berkata, bahwa kamu percaya aku bisa. Awalnya aku tak yakin. Tapi ternyata aku bisa. Aku bisa membawa semua kenangan itu dalam sebuah tempat yang tepat. Aku tempatkan pada sebuah kanvas bernama penantian, dengan figura kesabaran, dan ruangan doa yang selalu kupanjatkan dalam setiap sujud kala kubertemu denganNya. Maaf, jika aku lancang selalu menyebut namamu di dalam ruang bernama doa itu. Aku tahu, kau pasti marah jika aku melakukan hal itu. Tapi aku juga tahu, senyummu terulas dalam marahmu. Marahmu tak berarti sebuah amarah. Tapi keteguhan atas sebuah kata bernama cinta. Demi sebuah cinta yang halal suatu hari nanti, bersamamu. Kita berdua.

Selasa, 01 Januari 2013

Oneng Iseng

Tadi jantungku hampir lepas dari koordinatnya.
Detaknya terlalu cepat.
Semoga ia tak bergeser
tidak untuk satu milimeter saja.

~ ~ ~

Terima kasih atas sederet kalimat itu.
Aku bisa tenang sekarang.
Tanpa bingung harus dibawa ke mana hatiku ini.
Terima kasih atas sederet ucapan itu.
Aku lega sekarang.
Tanpa harus sakit dalam menjaga sebuah penantian.
Aku tenang dan lega sekarang.
Penantianku tak akan terasa sakit lagi.
Ya, semoga saja.

Senin, 31 Desember 2012

Oneng Iseng

Aku percaya bahwa pertemuan kami itu bukan hanya suatu kebetulan saja.
Bukankah Tuhan tak pernah bermain dadu,
terlebih untuk kepada siapa kita dipertemukan.
Tuhan punya kabar gembira di setiap rencanaNya.
Kau harus yakini hal itu, kawan.

~ ~ ~

Tuhan, aku memohon maaf dariMu.
Jika masih dan masih, lagi dan lagi
aku belum bisa berhenti memikirkannya. 

 ~ ~ ~

Kenapa waktu kita tidak pernah tepat??
Terkadang kumengutuknya.

~ ~ ~

Aku menari.
Aku bernyanyi.
Dengan nada yang tak kutahu pasti.
Ah, terserahlah.
Yang pasti,
Aku mencintaimu.

~ ~ ~

Dalam dekapan senyap malam.
Bersama hembus dinginnya angin.
Bulan yang melongo.
Bintang berkedip.
Aku masih di sini,
dan kau tak ada.

~ ~ ~

Tak bersamamu, tak dicintai olehmu
adalah hal baru yang menyakitkan.
Perlahan menyusup, menikam, dan terhujam
dalam tanah hatiku.

~ ~ ~

Aku pelupa. Makanya aku suka menulis.
Karena nanti aku bisa mengingat hal-hal indah yang pernah kulakukan.
Terlebih ketika bersamamu.

~ ~ ~

Hal yang paling menyayat
adalah ketika aku merasakan kebahagiaan
dan kau tidak bersamaku di sini.

~ ~ ~

Ingin rasanya lagi kumerasakan pecahnya rindu ini oleh tawamu.

Oneng Iseng

Aku mengenalmu lebih dari apa yang kau tahu.
Aku tahu detail tentangmu.
Bahkan kau pun mungkin tak akan percaya.
Aku tahu, karena itu kamu.

Oneng Iseng

Waktu terus merangkak perlahan disampingku.
Tak mau beranjak segera dari hadapanku.
Amat membuat otakku perlahan terbakar hingga menjadi abu.

Oneng Iseng

Katanya kau titipkan cerita pada angin,
makanya kupejamkan mataku dan diam untuk mendengar desirannya.
Katanya kau titipkan senyummu pada bulan sabit,
makanya aku betah berlama-lama tak terpejam ketika malam.

Kata

Aku adalah kata.
Aku suka menari bersama pena
merangkai kata menjadi kata-kata
membuat putih itu berwarna
sampai kutenggelam di dalamnya
dan aku tergila-gila.
Aku,
sang pecinta kata.

Kamis, 25 Oktober 2012

Kutipan Hati

Selepas senja hari itu.
Ku terduduk lesu atas lelahku.
Lelah fikir dan hatiku.
Ku katupkan kedua kelopak mata.
Terbuai dalam lantunan senja.
Terdengar angin membawa berita.
Kabar pilu atas jiwa.
Pilu atas rasa.
Pilu hingga pucat.
Pucat hingga cacat.
Cacat hingga mati.
Mati dan tamat.

Diorama Kehidupan

Hidup ini tak lepas atas setiap detik indah sang waktu. Berjalan dan terus berjalan. Walau tak tahu kemana aral langkah kan ku ukir. Walau mata masih terus mencari atas jalan yang akan ku lalui untuk detik selanjutnya. Hingga ku sampai pada persimpangan itu, akan ku tegaskan kaki ini untuk terus berjalan. Walau harus tertatih atas kaki yang lelah, tersekat atas nafas yang hampir habis, dan tersesat atas jalan yang ku pilih. Semuanya tak menjadi alasan untuk ku hentikan "Diorama Kehidupan" ini. Sebuah diorama yang harus ku pertanggungjawabkan kelak di hadapan sang pemilik jiwaku dan jiwamu. Sebuah diorama yang menjadi gambaran kualitas hidup seorang insan di dunia ini.

Detik ini dan detik berikutnya tak lepas atas sebuah keputusan yang harus diambil dari berbagai pilihan yang cukup sulit. Sebuah keputusan yang akan berdampak pada keputusan berikutnya dan berikutnya, begitu seterusnya. Detikku dan detikmu tak sama, kawan. Keputusanku dan keputusanmu pun tak sama. Karena otakku dan otakmu berada pada tempat yang tak sama pula. Semua keputusan akan membangun pribadi atas diriku dan dirimu yang pastinya tak sama. Setiap keputusan akan menentukan akan kau bawa ke mana Diorama Kehidupan mu itu, kawan. Jaga dioramamu, hingga sang pemilik jiwaku dan jiwamu meminta jiwaku dan jiwamu pulang kepadaNya.